Tan Malaka dan Sisi Gelapnya

0

Tan Malaka terjun dalam gelanggang pergerakan melawan kolonialisme Belanda. Bahkan, pada 1925, Tan Malaka menggagas ide mengenai “Republik Indonesia” dalam buku berjudul Naar de Republiek Indonesia. Buku yang beredar di bawah tanah inilah yang menginspirasi pergerakan dan pemikiran para tokoh bangsa selain Massa Actie (1926).



Meski demikian, yang mengganjal dalam pikiran banyak orang, termasuk beberapa pembicara dalam acara tersebut, adalah kenyataan Tan Malaka seorang komunis pada awal kiprahnya dalam dunia pergerakan tahun 1920-an. Tan Malaka tercatat pernah memimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) dan bahkan menjabat sebagai wakil Komintern untuk wilayah Asia Tenggara. Namun, Tan Malaka (di)keluar(kan) dari keanggotaan PKI setelah pemberontakan yang gagal terhadap pemerintah Belanda pada 1926-1927.

Tapi, menjadi komunis bukanlah dosa. Segalanya baru dimulai setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan. Saat itu, Tan Malaka mulai mengatur pergerakan bersama pengikutnya di Banten, Tangerang, Bogor, dan Jakarta. Kekuatan pun terkumpul. Kekuatan itu yang nantinya berkembang menjadi sebuah pemberontakan.

Gerakan di Tangerang

Di Tangerang, kepemimpinan gerakan dipegang oleh K. Akhmad Khaerun yang dibantu Siswoyo, Suwono, Sumo, Abas, dan Syekh Abdullah, seorang peranakan Arab. Abas dan Syekh Abdullah menangani pasukan bersenjata bernama Pasukan Berani Mati. Anggota-anggota pasukannya memakai seragam serba hitam.

Jawara-jawara Tangerang yang berwatak radikal dan tempramen keras itu sekarang dihimpun dan dipersenjatai. Selain itu mereka juga diberi kebebasan untuk bertindak dengan dalih demi kepentingan perjuangan. 

Dari titik itulah keberingasan pasukan bentukan Tan Malaka dimulai. Sasaran mereka remang-remang. Mereka yang dianggap musuh rakyat dan musuh perjuangan boleh ‘disikat’. Kebanyakan yang jadi sasaran mereka adalah orang China dan tuan-tuan tanah. “Orang-orang China dan tuan-tuan tanah otomatis masuk daftar sebagai musuh rakyat yang harus dibinasakan,” tertulis dalam buku yang sama. 

Akibatnya, banyak korban berjatuhan dari kalangan orang keturunan China dan golongan yang dianggap kapitalis. Rumah mereka digedor, harta bendanya dirampok dan orangnya dibunuh. Selain itu, Pamongpraja dan polisi turut jadi sasaran. Mereka dipandang sebagai musuh rakyat karena pernah menjadi alat Jepang untuk menindas rakyat. Beberapa di antara mereka juga diculik. Semakin lama, Pasukan Berani Mati itu makin tak terkendali.

“Banyak anggota pasukan hitam itu yang bertindak di luar batas dan bertindak untuk kepentingan pribadi dalam bentuk balas dendam pribadi dan melakukan perampasan atau perampokan atau meminta sumbangan secara paksa dengan dalih untuk kepentingan perjuangan,” ditulis Madijah.

Upaya Separatis

Kejadian serupa juga terjadi di Banten. Di sana, Ce Mamat yang punya komando. Ia membubarkan KNI (Komite Nasional Indonesia) dan BKR (Badan Keamanan Rakyat) dan menggantinya dengan membuat Dewan ala Ce Mamat. Ia mengganti Pejabat Kepolisian dengan orang-orangnya. Ce Mamat juga membebaskan para narapidana dari rumah penjara.

Yang paling keji, mereka menculik dan membunuh Bupati Lebak, Ardiwinangun dan melempar mayatnya begitu saja ke sungai. Anak-anak buah Tan Malaka itu mengambil alih kekuasaan di daerah Banten dan Tangerang. Hubungan dengan Pemerintah Pusat RI diputuskan.

Tangerang dinyatakan lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun, usaha menduduki Tangerang dan sekitarnya berhasil digagalkan pemerintah pusat. Di Rangkasbitung, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) bergerak. Perlahan, kekuasaan pemerintah atas RI dipulihkan. Revolusi ala Ce Mamat dan konco-konco-nya pun gagal.

Bermula pada momen peringatan keenam belas menghilangnya Tan Malaka, Parta Murba membuat petisi agar Pemerintah mengangkat Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional. Satu bulan pasca petisi itu diajukan, akhirnya Sukarno mendukung. Sehingga pada tahun 1963 Tan Malaka akhirnya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. 

Kontroversi Gelar

eperti Basuki Rahmat, pengangkatan Tan Malaka sebagai pahlawan nasional sejatinya juga diselimuti aroma politis. Sejarawan Harry A. Poeze mengatakan, pemberian gelar pahlawan nasional Tan Malaka sebagai inisiatif pribadi Sukarno.

Tak ada prosedur atau pun diskusi dengan komisi yang telah dibentuk. “Langkah Sukarno dianggap sebagai penghargaan atas dukungan Partai Murba terhadap politik Demokrasi Terpimpin Sukarno,” kata Poeze seperti dinukil historia.id.

Namun, jasa Tan Malaka terhadap bangsa Indonesia juga bukan hal yang bisa begitu saja dilupakan. Pemilik nama asli Sutan Ibrahim itu adalah tokoh yang mencentuskan bentuk negara republik untuk Indonesia.

Gagasan itu ia tuangkan dalam bukunya Naar de Republik Indonesia (Menuju Republik Indonesia) rilisan 1925. Buku itu kemudian menjadi bahan diskusi oleh para founding father seperti Sukarno dan Mohammad Hatta.

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Post a Comment (0)

buttons=(Accept !) days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top